Laman

Create :-O

Rahasia Senyum Bidadari

“Toott…toott…tooooooottt!”
“Astaga, padahal belum habis ini!”
“Sudah…nanti saja dilanjutkan makannya. Mau kamu berdiri satu kaki sambil pegang kuping?”
“Ah, hilang harga dirku nanti.”
“Nah, maka dari itu. Ayolah cepat!”
Walaupun dengan muka merana dan berlinang air mata, akhirnya Togar dengan ikhlas melepaskan mangkuk bubur ayamnya yang masih berisi setengah. Kami bergegas menuju kelas dan “gedubrak gedubruk gubrak,” dengan tangkas aku langsung menyambar kursiku dan duduk dengan rapi. Yang tadi itu ulah si Togar. Karena perutnya yang mirip ibu hamil tujuh bulan, ia jadi harus menabrak beberapa meja dan kursi terlebih dahulu baru ia dapat duduk dengan tenang di singgasananya.
“Gar…Gar…, tidak kasihan kamu dengan kursi meja yang kamu siksa setiap mau masuk kelas? Tobat Gar. Dituntut kamu nanti di akhirat.”
“Macam mereka puya nyawa saja mau menuntut aku diakhirat,” sergah Togar dengan logat Bataknya.
“Makanya diet, perutmu itu perkaranya.”
“Bah, kau kan tahu, aku tidak sepandai kau, riez. Aku juga tidak setampan Leonardo de…de siapa?”
“de Caprio.”
“Iya itu! Apalah lagi yang bisa ku banggakan kalau bukan perutku ini, ha ha ha!”
“Perut kamu banggakan.”
Tiba-tiba kelas menjadi sepi. Semua siswa seperti terjepit jepitan jemuran mulut mereka. Inilah tanda-tanda alam yang keramat itu. Tanda kalau si Miss Killer Instinct telah hadir. Bukan, itu memang bukan nama guru bahasa Inggris kami tersebut. Julukan itu beliau dapat karena kalau sedikit saja salah bergerak langsung disemprotnya kita dengan omelan-omelan yang mematikan. Sungguh mengenaskan.
Oh iya, sebelumnya ku perkenalkan dulu diriku. Namaku Riez Andrea. Ketika aku tahu kalau semua nama itu puya arti, guru agama SD ku yang berkata begitu, lantas aku tanyakan kepada ibuku apa arti dari namaku. Kata ibu, ayah ingin semua anaknya mempunyai nama yang diawali huruf “R”. Keren katanya. Waktu itu otak tujuh tahunku hanya tahu penampilan saja yang bisa keren, ternyata nama juga bisa. “Lalu,” kata ibu lagi, “Ayahmu sangat senang dengan sepak bola. Klub andalannya AC Milan, pemain yang sangat diidolakannya Andrea Pirlo. Jadilah namanya diberikan kepadamu. Harapannya kamu nanti menjadi pemain sepak bola yang hebat seperti bule itu.” Sayangnya perjalanan hidupku tidak seperti yang diharapkan ayah. Aku bukan laki-laki yang gila bola. Aku bermain sepak bola hanya sekedar bermain saja. Aku lebih suka menggebuk drum di studio musik tempat ku dan teman-teman sering berlatih. Aku lebih senang menonton pementasan teater dibanding menonton petandingan bola di TV sampai larut malam. Ini mungkin diturunkan oleh ibuku yang memang menyukai seni dan memiliki darah seniman dari kakek.
Kalau kau tanya status, kau pasti sudah menduga karena aku anak band jadi memiliki pacar di sana-sini. Sebenarnya aku ingin. Tapi niat untuk menjadi playboy sejati itu ku urungkan setelah mendengar nasihat ibu, “Riez, kamu itu tipe laki-laki yang tidak cocok pacaran. Terlalu setia. Dan perempuan sekarang juga jarang ada yang mau punya pacar satu.” Aku pikir tidak semua perempuan seperti itu, pasti ada perempuan yang mau setia dengan satu pacar. “Tapi ya ibu berkata seperti itu ada dasarnya. Dalam Islam tidak ada poliandri yang ada hanya poligami. Karena setelah menikah mereka hanya boleh punya satu suami, jadi mumpung masih belum menikah mereka pacaran dengan banyak laki-laki,he he he.” Aku tidak tahu pasti apakah ibu berkata begitu karena ingin berceramah tentang hukum dalam Islam atau cuma ingin meng-kadal-i aku, tetapi menurutku apa yang dikatakan ibu ada benarnya juga. Jadilah aku tidak pernah punya pacar sampai sekarang.
Dan hari-hariku berjalan seperti biasa. Hingga pada waktu itu di perpus...
“Oh...Pak Sabhan...mengapa kau berikan tugas sebanyak ini. Seperti tak sanggup aku memikulnya...”, Togar membacakan puisinya dengan suara yang pas-pasan sepas-pasan wajahnya yang pas-pasan.
“Beras kali dipikul!”
“Habis. Coba kau tengok, satu minggu saja sudah dua tugas. Ditambah tugas yang lain? Matilah...”.
Tiba-tiba sesosok bidadari muncul....
“Wuuaahhh...”.
Terpesona aku dan Togar dengan pemandangan yang indah itu. Rambutnya tergerai indah. Alisnya hitam terukir di wajahnya yang putih bersih. Matanya hitam kecoklatan. Hidungnya bagaikan dipahat sedemikian rupa. Bibirnya mungilnya sungguh menawan dengan seulas senyum yang ditebarkannya ketika ia lewat di depan kami.
“Makhluk yang indah ...”, ujar Togar.
Kali ini aku setuju dengan pendapat Togar. Baru kali ini aku bisa dengan lihai mendeskripsikan seorang makhluk yang bernama perempuan. Mungkin karena memang seperti itulah gambaran yang tertangkap oleh indra penglihatanku. Seperti bidadari. Ya. Setidaknya ia bidadari pertama yang pernah ku lihat.
Dua hari kemudian aku bertemu dengan bidadari itu lagi. Di kantin ini lumayan sepi. Kupikir-pikir kalau terjadi sesuatu di luar dugaan jadi tidak akan terlalu malu untuk menanggung aib dicueki perempuan. Dan dengan semangat 45 yang berkobar di dada, aku beranikan diri untuk mendekatinya. “Hai, boleh aku duduk di sini kan?”, kataku menunjuk kursi disebelahnya. Ia tersenyum menatapku. Kata orang kalau perempuan senyum berarti tanda mengiyakan, lalu duduklah aku di sampingnya. “Nama kamu siapa?” Dia hanya menjawabnya dengan senyum, senyum yang indah. Ya. Senyum seorang bidadari. “Kamu anak kelas berapa?”, ia tersenyum lagi padaku, berdiri, ke kasir, membayar makanannya, lalu pergi. Seperti yang sudah ku duga, aku dicueki. Ku lihat disekitarku sepertinya tidak ada yang memperhatikan. Syukurlah. Langkah selanjutnya…kabur.
Akhirnya, selidik punya selidik aku sudah mengetahui namanya. Zeni Aulia, siswi kelas 2-1. Aku tahu itu sewaktu upacara bendera Senin kemarin. Dia dipanggil maju ke depan untuk menerima tropi penghargaan juara 1 Olimpiade Astronomi. “Hwahh…cantik, pintar, berprestasi. Andai aku dapat memilikinya…”.
Pulang sekolah. Seperti biasa, panas luar biasa. Susah payah aku mengambil motor di parkiran. Gerah, ingin cepat-cepat sampai di rumah ngadem di kamar mandi. Tiba-tiba angin kesejukan datang menerpa. Zeni berdiri sendirian di bawah pohon. Kesempatan itu…akhirnya datang juga! Aku bertekad kali ini harus berhasil mendekatinya, paling tidak ada sedikit kemajuan, dari pengagum jadi teman. Dari teman jadi sahabat. Dari sahabat jadi…,hehehe.
“Hai, sendirian, lagi nunggu siapa?” Ia hanya diam memperhatikanku.
“Kamu Zeni kan? Kamu hebat, selamat ya atas penghargaan kemarin.” Ia tersenyum, aku pun tersenyum, satpam juga senyum. Kami sama-sama tersenyum. Tapi kok satpam ikut-ikutan?
“Kenalkan, aku Riez, boleh aku jadi teman kamu?”, sambil ku sodorkan tanganku berharap ia mau menyalami dan menerima tawaran pertemananku. Tapi ia hanya diam. Tak sepatah katapun diucapkannya. Lalu dari seberang jalan ada yang memanggilnya. Dia melihat kearahku dan melambaikan tangannya. Ia pun pergi. Aku ? Sendiri, berdiri, dengan tangan yang masih mengambang di udara, hampa. Ada sedikit rasa kesal. Mengapa sikapnya seperti itu, padahal rasanya tidak ada kata-kata yang tidak sopan keluar dari mulutku. Dan aku tidak bersikap kurang ajarkan. Aku hanya ingin bisa berteman dengannya, ingin mengenalnya lebih jauh. Meskipun mungkin dia tidak suka denganku seharusnya dia tidak seperti itu. Paling tidak membalas sedikit saja sapaanku akan lebih sopan dari pada hanya diam dan senyum. Dia cantik, pintar, tetapi kalau sombong?
Apalagi kalau bukan tugas Pak Sabhan yang membawaku ke perpustakaan umum. Tadi Togar sudah ku ajak, tetapi dia menolak, katanya mau makan dulu ke kantin. Humh…anak itu. Ketika aku berkeliling mencari buku untuk tugas ku, tidak disangka Zeni juga ada. Dia sedang asik membaca buku di salah satu meja baca. Tanpa harus bertanya lagi aku duduk di kursi di sebelahnya. Aku berinisiatif membuka pembicaraan, walaupun sebelumnya aku ragu, takut kalau ia hanya diam lagi. Kalau sampai seperti itu, habislah sudah harga diriku, dan ini yang terakhir.
“Suka baca juga Zen?”, ia menoleh kearahku lalu mengangguk dan tersenyum.
“Suka baca buku apa?”, diperlihatkannya cover bukunya. Novel. “Oh...kenapa tidak disebutkan saja sih”, kataku dalam hati.
“Aku juga suka baca novel lo, apalagi Triloginya J.R.R Tolkien.” Ia diam saja tidak berkomentar. Hatiku rasanya panas. Sombong sekali pikirku.
“Kamu kok diam saja? Dari kemarin aku berusaha berakrab-akrab sama kamu tapi kamu tidak pernah mau merespon sapaanku. Kalau kamu tidak suka dengan ku seharusnya kamu kan tidak boleh seperti itu. Hanya diam. Menurutku itu sangat tidak sopan. Apa aku bertindak kurang ajar ke kamu?”
“Kamu jangan salah paham, aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya kagum dengan mu. Kamu itu cantik, juga berprestasi, aku pikir pasti menyenangkan bisa berteman dengan mu. Tapi…kamu sepertinya bukan orang yang cukup ramah untuk orang lain. Ya…mungkin menurutmu aku bukan orang yang pantas untuk jadi temanmu.”
Kata-kata itu tak sengaja sebenarnya. Tapi itu sedikit luapan kekesalanku kepada perempuan ini, sekedar ingin menyadarkan kalau wajahnya yang cantik seharusnya diiringi dengan sikap yang cantik pula.
Wajahnya tampak sedih memandangku. Mulutnya lalu membuka-menutup seperti orang berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya bergerak-gerak seolah-olah menjelaskan apa yang ingin disampaikannya kepada ku.
Kali ini, aku yang diam….